Mutiara Ramadhan
114 “Surat Cinta”
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di Indonesia kita peringati dengan Nuzulul Qur’an pada setiap malam 17 Ramadhan, meski belum tentu juga Al-Qur’an
Mereka lebih banyak membangun persepsi dan persangkaan yang cenderung bias tentang karakter Si Pengirim 114 surah atau surat.
Gambaran tentang-Nya lebih didominasi oleh gambaran penegak hukum yang siap menindak para pelanggar dan pendosa.
Hampir saban Jumat khatib “meneror” jemaahnya dengan ayat-ayat siksa; buah dari konstruksi teologis yang telah berusia lebih dari satu milenium yang hingga kini masih bertahan dan dipandang sebagai ‘indisputable’.
Jadinya, beribadah hanya jadi ajang pendekatan (PDKT) dan upaya menyenangkan Sang Pengirim Surat.
Si penebar ayat juga merasa cukup puas melihat jemaahnya pulang dengan jiwa yang ciut memikirkan dosa-dosanya ketimbang jiwa yang tercerahkan.
Pendekatan ini tentu saja lebih banyak memperdayakan daripada memberdayakan; jemaah lebih banyak dibuat horor dan inferior dalam komunikasi transendentalnya.
Sudah saatnya gambaran tentang Sang Pengirim 114 surah itu digambarkan dengan karakter ramah penuh cinta; bukan karakter marah penuh murka.
Alas pikir untuk menegakkan perspektif ini sangat kuat, bahkan dinyatakan dengan sangat tegas di awal ayat dan surah alQur’an sendiri dengan kalimat “bismillahirrahmanirrahim”.
Bismillahirrahmanirrahim bukanlah setakat formalitas pembuka surat. Ini adalah proklamasi identitas.
Tuhan ingin dikenal pertama kali sebagai Sang Pengasih dan Penyayang, bukan sebagai Sang Penghukum.
Dia memperkenalkan diri-Nya melalui spektrum cinta yang paling luas, yang mencakup segalanya (rahmatan lil ‘alamin).
Baca juga: Momentum Hijrah di Bulan Ramadhan
Persembahan bukti besar cintanya langsung dinyatakan pada ayat kedua, alam semesta di mana segala keperluan hidup manusia telah disediakan-Nya.
Di surah-surah awal Dia juga terus berupaya meyakinkan bahwa rangkain surah-suraah yang Dia kirimkan adalah petunjuk kepada orang-orang yang memahami dan menghayati betapa besar cinta-Nya (muttaqin).
Sepanjang 6.000 lebih kata dan kalimat yang dirangkai dalam surah-surah-Nya itu bertujuan agar makhluk pilihannya membangun peradaban kehidupannya berbasis cinta.
Untuk menguatkan, Dia ceritakan panjang lebar peradaban yang pernah eksis yang hidup dalam kebencian sebagai bandingannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Dr-Marah-Halim-SAg-MAg-MH.jpg)