Mutiara Ramadhan
114 “Surat Cinta”
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di Indonesia kita peringati dengan Nuzulul Qur’an pada setiap malam 17 Ramadhan, meski belum tentu juga Al-Qur’an
Tanpa kesan yang lama dan panjang, peringatan Nuzulul Qur’an hanyalah sekedar seremoni belaka; ajang kamuflase dan kepura-puraan cinta penguasa dan pengusaha kepada warganya.
Mekar tidaknya cinta dalam hati sanubari para pembesar itu berdampak luas dan mendalam pada kehidupan bangsa ini.
Sadar atau tidak keterpurukan dan ketertinggalan bangsa kita dibandingkan bangsa lain disebabkan oleh defisit dan krisis cinta dan kasih sayang dari penguasa dan pengusahanya.
Berulang kali dalam surahsurah-Nya, Sang Pencinta Sejati mengulas kolaborasi nircinta antara penguasa dan pengusaha plus kaum intelektual seperti kisah Fir’an, Haman, Qarun, dan Samiri.
Cerita peradaban yang sama akan terus berulang sepanjang sejarah; hanya bertukar pemeran.
Istilah-istilah yang menghiasai media untuk menggambarkan karakter-karakter pembawa bencana ini mengalami eufimisme belaka.
Terdengar beradab, tetapi sesungguhnya perilaku dan perlakuannya biadab.
Apa kurang biadabnya kekayaan negara hanya berkisar pada 9 naga? Apa kurang biadabnya mereka berbagi HPH di atas meja.
Apa masih disebut beradab pengusaha yang memagari laut, pengoplos BBM, dan masih banyak lagi.
Dengan berbagai sumber inspirasi cinta, Indonesia sesungguhnya mengalami disrupsi cinta.
Namun, cinta itu hanya menyebar secara horizontal di antara masyarakat banyak yang saban hari dibuat halu oleh cinta kepada negara dan bangsanya.
Sementara, secara vertical cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan; bukannya cinta yang didapatkan, tetapi pengkhianatan demi pengkhianatan yang berlindung di balik seremoni kenegaraan seperti Nuzulul Qur’an. (*)
Baca juga: Ikhlas: Amal Besar yang Bisa Gugur Tanpa Kita Sadari
Baca juga: Ramadhan, Menyempurnakan Hubungan Sesama Manusia
Baca juga: Sabar: Ibadah Sunyi yang Pahalanya Besar
Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Dr-Marah-Halim-SAg-MAg-MH.jpg)