Mutiara Ramadhan
114 “Surat Cinta”
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Di Indonesia kita peringati dengan Nuzulul Qur’an pada setiap malam 17 Ramadhan, meski belum tentu juga Al-Qur’an
Hanya Sang Pencinta sejati yang secara repetitif terusmenerus mengungkapkan kecintaannya.
Surah-surah-Nya itu ada yang Panjang, ada yang pendek.
Baik dalam surah yang panjang atau surat yang pendek intinya Sang Pencinta Sejati hanya berisi dua tema, yakni peringatan dan kabar gembira.
Anjurannya untuk terus-menerus membaca surahsurah-Nya itu tidak lain adalah upaya-Nya menurunkan sifat peuh cinta-Nya kepada manusia makhluk-Nya.
Semua bentuk komunikasi transendental disyaratkan mengulang-ulang mengutip isi surah-surah-Nya, terutama dalam ibadah shalat semua orang bisa melaksananakannya; dalam apa pun kondisi kita.
Hanya Sang Pencinta sejati yang selalu mengkhawatirkan keselamatan orang yang dicintainya, meski orang yang dikhawatirkan-Nya itu kadang membangkang, bahkan mengingkari apa yang dikatakan dan diperingatkan.
Ibarat besarnya cinta ayah dan bunda kepada putra-putrinya, tidak ada detik yang berlalu tanpa memikirkan keselamatan dan kebaikan hidup anak-anaknya.
Demikian halnya cinta dari Sang Maha Cinta kepada manusia ciptaan-Nya.
Sang Maha Cinta sendiri yang menyatakan bahwa sesungguhnya jiwa kita manusia adalah bagian dari jiwa-Nya (wa nafakhtu fihi min ruuhii).
Baca juga: Takwa kepada Allah sebagai Inti Kehidupan
Mewujudkan peradaban cinta
Di Indonesia, Nuzulul Qur’an adalah acara kenegaraan, baik yang diadakan dalam acara resmi yang dihadiri para pembesar negeri.
Lalu, apa pesan dan kesan yang diharapkan dari gala itu?
Alangkah naifnya jika ‘event’ semegah itu hanya menjadi ajang politis untuk menyenangkan pemegang saham terbesar dari eksistensi republik ini.
Pesan yang harus tersampaikan adalah agar jiwa par pembesar dan pemegang kewenangan negara yang besar-besar itu dipenuhi dengan sifat cinta yang digaungkan Sang Pencinta Sejati.
Di tangan mereka nasib 280 juta manusia Indonesia yang mengharapkan kebijakan, pelayanan publik, peraturan, penegakan hukum, bantuan bencana, dan subsidi BBM yang penuh cinta.
Selanjutnya, kesan yang diharapkan dari besarnya ‘event’ Nuzulul Qur’an itu adalah kesan cinta yang awet berkepanjangan hingga 11 bulan yang akan datang, hingga para pembesar itu diundang lagi untuk kembali dibacakan lagi untaian dan uraian ayat-ayat cinta kepada mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Dr-Marah-Halim-SAg-MAg-MH.jpg)