Selasa, 12 Mei 2026

Tahukah Anda

Kehidupan Sosial Beragam Bantu Otak Pahami Dunia Lebih Baik

Penelitian terbaru dari Royal Holloway, University of London, mengungkap bahwa interaksi sosial yang beragam dapat memengaruhi cara otak memproses

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
ILUSTRASI DIBUAT AI
INTERAKSI SOSIAL - Cara kita berinteraksi dengan orang lain bisa memengaruhi bagaimana otak memproses waktu dan pengalaman. Orang dengan kehidupan sosial yang lebih beragam cenderung melihat harinya sebagai rangkaian momen berbeda.  

PROHABA.CO -   Pernahkah Anda merasa hari-hari terasa membosankan. Lalu, mengapa kehidupan sosial penting untuk otak?

Penelitian terbaru dari Royal Holloway, University of London, mengungkap bahwa interaksi sosial yang beragam dapat memengaruhi cara otak memproses waktu dan membagi pengalaman menjadi momen yang lebih bermakna.

Peneliti utama, Carl Hodgetts, menjelaskan bahwa kehidupan sosial yang dinamis berperan dalam proses event segmentation -- mekanisme otak yang memecah aliran pengalaman menjadi potongan-potongan kecil yang lebih mudah dipahami.

Proses ini penting untuk membentuk memori, mengenali perubahan, serta merencanakan tindakan ke depan.

Dalam studi yang melibatkan 157 orang dewasa muda, peserta diminta menonton potongan film pendek Alfred Hitchcock berjudul Bang! You’re Dead, lalu menekan tombol setiap kali mereka merasa satu momen berakhir dan momen baru dimulai.

Hasilnya, mereka yang memiliki kehidupan sosial lebih beragam cenderung mendeteksi lebih banyak batas momen dibandingkan peserta lain.

Artinya, mereka mampu membagi pengalaman menjadi potongan lebih halus.

Baca juga: Bekerja Terlalu Lama Bisa Berdampak dan Mengubah Struktur Otak Kita, Berikut Penjelasan Ahli

Hubungan ini tetap kuat, bahkan setelah faktor seperti kecemasan, kesepian, dan kondisi ekonomi diperhitungkan.

Menariknya, variasi sosial ternyata lebih berpengaruh dibandingkan variasi ruang (misalnya, pergi ke tempat baru).

“Bukan sekadar berjalan di rute berbeda, tapi berinteraksi dengan berbagai orang yang membuat otak kita lebih tanggap,” tambah Hodgetts.

Setiap hari, indra kita menerima informasi tanpa henti. Agar tidak kewalahan, otak memotongnya menjadi “peristiwa” yang memiliki awal dan akhir.

Titik batas ini muncul ketika ada perubahan penting, seperti pergantian tujuan, lokasi, karakter, atau emosi.

Studi ini menunjukkan bahwa orang yang hidup dengan pengalaman lebih beragam, terutama secara sosial, cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mendeteksi perubahan ini.

Hal ini sejalan dengan sifat kehidupan sosial yang kompleks dan dinamis, yang memaksa otak terus beradaptasi.

Peneliti juga menemukan bahwa hubungan antara variasi sosial dan kemampuan segmentasi lebih kuat pada orang dengan tingkat kecemasan tinggi.

Ini bisa berarti kepekaan terhadap isyarat sosial dan emosional memperkuat efek tersebut.

Kemampuan memecah pengalaman ini penting karena terkait dengan memori episodik dan navigasi.

Baca juga: Ada Kebiasaan Sederhana yang Bisa Kuatkan Kemampuan Otak di Segala Usia

Studi sebelumnya menunjukkan segmentasi yang baik dapat meningkatkan daya ingat dan kemampuan merencanakan tindakan.

Dengan kata lain, kehidupan sosial yang kaya bukan hanya menyenangkan, tapi juga menyehatkan otak

Meski hasil ini menarik, penelitian ini hanya mengandalkan laporan mandiri dan percobaan menonton film, sehingga tidak bisa membuktikan sebab-akibat secara langsung.

Tim peneliti berencana menggunakan MRI untuk melihat bagaimana aktivitas otak saat mendeteksi batas peristiwa bervariasi sesuai pengalaman sosial seseorang.

Kita mungkin tidak bisa menonton Hitchcock sepanjang hari, tapi kita bisa memperluas lingkaran sosial.

Berinteraksi dengan lebih banyak orang, dari berbagai latar belakang, dapat melatih otak mengenali perubahan di sekitar dan membuat hidup terasa lebih bermakna.

Seperti kata Hodgetts, “Bukan hanya soal menjelajahi tempat baru, melainkan juga membangun koneksi dengan beragam orang agar kita lebih memahami dunia.”

Studi lengkap ini telah diterbitkan dalam jurnal iScience dengan judul “Individual Differences in Experiential Diversity Shape Event Segmentation Granularity.”

Kesimpulannya, memperluas lingkaran sosial bukan hanya memperkaya hidup, tetapi juga melatih otak agar lebih peka, adaptif, dan mampu merespons dunia dengan lebih cermat.

Baca juga: Apakah Otak Kita Bisa Kehabisan Memori?

Baca juga: Dari Mana Kreativitas di Otak Manusia Berasal, Berikut Penjelasannya

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hidup Sosial yang Aktif Bantu Otak Memahami Dunia Lebih Baik",

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved