Rabu, 22 April 2026

Tahukah Anda

Ilmuwan Temukan Emas Hidrida, Emas Generasi Terbaru Guncang Dunia Sain

Para ilmuwan menemukan sebuah penemuan luar biasa: emas hidrida (gold hydride), senyawa emas yang belum pernah tercatat sebelumnya. 

Editor: Muliadi Gani
GREG STEWART/SLAC NATIONAL ACCELERATOR
ILUSTRASI PULSA INTENS - Ilustrasi pulsa intens dari laser elektron bebas sinar-X (kiri) yang memanaskan sampel hidrokarbon terkompresi ke kondisi ekstrem, menghasilkan reaksi emas dan hidrogen membentuk hidrida emas (tengah) 

Temuan yang dipublikasikan di Angewandte Chemie International Edition ini menunjukkan bahwa perilaku kimia bisa berubah drastis pada kondisi ekstrem, mirip dengan yang terjadi di dalam planet atau bintang.

Untuk menciptakan kondisi tersebut, para peneliti menekan sampel hidrokarbon dengan ‘diamond anvil cell’ hingga melebihi tekanan di bawah mantel Bumi, lalu memanaskannya hingga lebih dari 1.900 °C menggunakan semburan sinar-X.

Hasilnya jelas: atom karbon tersusun menjadi kisi berlian. Namun, data juga menunjukkan sesuatu yang lebih menarik--atom hidrogen bereaksi dengan emas--lalu membentuk emas hidrida.

Pada kondisi ini, hidrogen berada dalam keadaan superionik: atom hidrogen dapat bergerak bebas di dalam kisi emas yang kaku.

Fenomena ini meningkatkan konduktivitas emas hidrida dan memberi wawasan baru tentang perilaku materi dalam tekanan dan suhu ekstrem.

“Kami bisa menggunakan kisi emas sebagai ‘saksi’ untuk melihat apa yang dilakukan hidrogen,” kata Mungo.

Baca juga: Ilmuan Ciptakan Berlian Super Keras di Laboratorium

 Mengapa penting?

Karena, hidrogen padat seperti ini diduga mengisi bagian dalam planet raksasa seperti Jupiter dan juga berperan dalam proses fusi nuklir di bintang. 

Dengan kata lain, eksperimen ini memberi kita jendela kecil untuk mengintip dunia asing dan reaktor alami di jagat raya.

Penemuan ini tidak hanya penting untuk ilmu planet dan energi, tetapi juga memperluas batas pengetahuan kimia.

Emas, yang selama ini dianggap hampir tak bereaksi, ternyata bisa membentuk hidrida stabil, meski hanya pada kondisi tekanan dan suhu ekstrem. Begitu pendinginan terjadi, emas dan hidrogen kembali terpisah.

Namun, simulasi menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanannya, semakin banyak atom hidrogen yang bisa masuk ke dalam kisi emas.

Menurut Siegfried Glenzer, Direktur Divisi High Energy Density di SLAC sekaligus peneliti utama, “Penting bagi kita untuk bisa secara eksperimental menghasilkan dan memodelkan keadaan materi ini.

Alat simulasi ini juga bisa diterapkan untuk memodelkan sifat eksotis material lain di kondisi ekstrem.

” Dari “kecelakaan eksperimen” yang awalnya hanya bertujuan membuat berlian, lahirlah penemuan besar: emas hidrida. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved