Tahukah Anda

Perubahan Iklim Berpotensi Sebabkan Pandemi Berikutnya

Studi terbaru mengungkapkan bahwa pandemi berikutnya berpotensi terjadi akibat dari perubahan iklim di Bumi. Sejumlah peneliti mengatakan kondisi ...

Editor: Muliadi Gani
ANTARA FOTO/REUTERS/KEVIN MOHATT/HP/DJO
Seorang pemadam kebakaran berusaha memadamkan kebakaran Hermits Peak dan Calf Canyon, dekat Las Vegas, New Mexico, Amerika Serikat, Rabu (4/5/2022). 

Berdasarkan studinya, peneliti menyampaikan sebagian besar fenomena ini mungkin sudah berlangsung sejak peningkatan suhu dunia yang mencapai 1,2 derajat Celsius.

Sayangnya, upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, sebagai salah satu dampak perubahan iklim ini, kemungkinan tidak efektif dalam menghentikan kondisi tersebut.

Dampak pada kelelawar Di sisi lain, para peneliti juga menemukan peningkatan suhu global berpengaruh pada kelelawar yang merupakan agen penular virus.

Kemampuan hewan ini untuk terbang memungkinkan mereka melakukan perjalanan jauh, dan menyebarkan virus secara masif.

Pihaknya memperkirakan, wilayah Asia Tenggara yang menjadi rumah bagi keanekaragaman kelelawar akan lebih terdampak terkait dengan penyebaran virus.

“Simulasi ini mengejutkan kami.

Baca juga: Perubahan Iklim Sebabkan Para Gadis Zimbabwe Jadi Pekerja Seks

Kami telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memeriksa ulang hasil tersebut, dengan data yang berbeda dan asumsi yang berbeda, tetapi model selalu membawa kami pada kesimpulan yang sama,” jelas Carlson.

Lebih lanjut, para peneliti berkata ketika virus mulai berpindah antar spesies inang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dampak terhadap konservasi serta kesehatan manusia bisa tidak terduga.

Rekan penulis studi tentang perubahan iklim memicu pandemi baru dari Georgetown University, Gregory Albery PhD, hasil penelitiannya memberikan gambaran bagaimana perubahan iklim dapat mengancam kesehatan manusia dan hewan.

“Masih belum jelas bagaimana virus baru ini dapat memengaruhi spesies yang terlibat, tetapi kemungkinan banyak dari mereka akan menyebabkan risiko dan memicu munculnya wabah baru pada manusia,” paparnya.

Sejauh ini, para peneliti mencatat bahwa dampak perubahan iklim akan menjadi faktor risiko terbesar terkait dengan kemunculan penyakit dibandingkan deforestasi, perdagangan satwa liar, dan pertanian industri.

“Pandemi Covid-19, dan penyebaran SARS, Ebola, dan Zika sebelumnya, menunjukkan bagaimana virus yang menular dari hewan ke manusia memiliki efek yang sangat besar.

Untuk memprediksi penularannya ke manusia, kita perlu mengetahui penyebarannya di antara hewan lain,” ucap direktur program di National Science Foundation (NSF) Sam Scheiner.

Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar pengawasan terhadap penyakit yang disebabkan satwa liar terkait dengan perubahan lingkungan perlu diperketat.

Carlson menyampaikan bahwa dengan menemukan inang penyebab penyakit sesegera mungkin, dapat mencegah lebih banyak kasus maupun potensi pandemi. (Kompas.com)

Baca juga: Nomor Hp Dikloning, Rp 74 Juta Uang Nasabah Bank Raib

Baca juga: Rihanna Sumbang 15 Juta Dolar AS untuk Keadilan Iklim

Baca juga: Status Pandemi Covid-19 Belum Diubah WHO Menjadi Endemi

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved