Luar Negeri

Krisis Pangan Ancam Eropah

ekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melakukan "kontak yang intens" dengan Rusia, Ukraina, Turki, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE), ...

Editor: Muliadi Gani
FOOD NAVIGATOR
Rusia dan Ukraina yang disebut sebagai lumbung pangan global, telah menyumbang sekitar 29 persen dari ekspor gandum global, 19 persen dari ekspor jagung, dan 78 persen dari eskpor minyak bunga matahari. Namun perang telah mengganggu produksi pangan, karena Rusia telah melarang ekspor biji-bijian, dan panen di Ukraina menjadi tidak pasti, yang berakibat pada melonjaknya harga pangan. 

PROHABA.CO, NEW YORK - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melakukan "kontak yang intens" dengan Rusia, Ukraina, Turki, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE), untuk memulihkan ekspor gandum Ukraina di tengah krisis pangan global yang semakin parah.

"Saya optimis, tetapi masih ada langkah yang harus ditempuh.

Keamanan yang kompleks, implikasi ekonomi dan keuangan membutuhkan niat baik di semua sisi," kata Guterres pada Rabu (18/5) sebagaimana dilansir Reuters.

Berbicara pada pertemuan ketahanan pangan di PBB yang diselenggarakan oleh Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Guterres mengimbau Rusia agar mengizinkan "ekspor biji-bijian yang aman dan terjamin yang disimpan di pelabuhan Ukraina".

Dia juga meminta agar makanan dan pupuk Rusia "memiliki akses penuh dan tidak terbatas ke pasar dunia."

Perang Rusia-Ukraina telah menyebabkan harga global untuk biji-bijian, minyak goreng, bahan bakar dan pupuk melambung.

Guterres memperingatkan kondisi ini akan memperburuk krisis pangan, energi dan ekonomi di negara-negara miskin.

Baca juga: Krisis Sri Lanka: Pembakaran Menyebar, Mantan Perdana Menteri Melarikan Diri

"Ini mengancam puluhan juta orang ke jurang kerawanan pangan, diikuti oleh kekurangan gizi, kelaparan yang massal dan ekstrem, dalam krisis yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun," kata Guterres yang mengunjungi Moskwa dan Kyiv akhir bulan lalu.

Ukraina biasanya mengekspor sebagian besar barangnya melalui pelabuhan tetapi sejak invasi Rusia pada 24 Februari, negara itu terpaksa mengekspor dengan kereta api atau melalui pelabuhan kecil di Sungai Danube.

"Jika Anda punya hati, silakan buka pelabuhan ini," kata Kepala makanan PBB David Beasley mengimbau Presiden Rusia Vladimir Putin.

Beasley mengepalai Program Pangan Dunia, yang memberi makan sekitar 125 juta orang dan membeli 50 persen gandumnya dari Ukraina.

Menurutnya, ini bukan hanya tentang Ukraina tapi tentang yang termiskin dari yang miskin yang berada di ambang kelaparan saat ini.

Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang hampir sepertiga dari pasokan gandum global.

Ukraina juga merupakan pengekspor utama jagung, jelai, minyak bunga matahari dan minyak lobak.

Baca juga: Donald Trump Sebut Joe Biden Tidak Bisa Hentikan Krisis Ukraina, Ini Alasan Dibaliknya

Sementara Rusia dan Belarusia - yang telah mendukung Moskwa dalam serangan ke Ukraina - menyumbang lebih dari 40 persen ekspor kalium global, nutrisi tanaman.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved