Tahukah Anda
Merokok Bisa Tingkatkan Prevalensi Stunting di Indonesia
Berbagai studi sudah menemukan bukti bahwa rokok sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh, termasuk dalam meningkatkan stunting di Indonesia ...
PROHABA.CO - Berbagai studi sudah menemukan bukti bahwa rokok sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh, termasuk dalam meningkatkan stunting di Indonesia.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangangizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru terlihat setelah bayi berusia dua tahun.
Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr Ede Surya Darmawan MDM mengatakan, rokok menjadi sumber masalah kesehatan bagi banyak orang.
Rokok tidak hanya berdampak pada orang yang merokok atau disebut sebagai perokok aktif, tetapi juga berdampak terhadap perokok pasif, yakni orang-orang yang tidak merokok, tetapi menghirup asap pembakaran rokok tersebut.
Baca juga: Enam Bahaya Merokok pada Saraf dan Otak Remaja
Ada banyak sekali bahaya dari paparan rokok terhadap orang lain.
Salah satu bahaya yang bisa ditimbulkan dari paparan asap rokok adalah stunting.
“Ada bapak yang merokok di samping ibu yang sedang hamil, saat menyusi, dan lain-lain.
Itu kan potensi anak dalam kandungan menjadi stunting,” kata Ede dalam audiensi ‘Pengaruh Rokok terhadap Stunting’ bersama TCSC dan BKKBN, Rabu (3/8/2022).
“Kalau kita berjuang untuk pendidikan anak sejak dini, nah perokok itu mendidik anaknya merokok sedini mungkin,” lanjutnya.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mendukung penuh upaya IAKMI dalam menekan prevalensi perokok pada anak dan ia pun menyebut memang benar rokok erat kaitannya dengan stunting.
Hasto menyampaikan bahwa bayi yang lahir panjang badan kurang dari 48 cm masih 22,6 persen.
Baca juga: Ada Lima Penyebab Turunnya Kesehatan Jantung, Salahsatunya Merokok
Selain itu, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 bayi yang lahir prematur masih 29,5 persen dan ini masih masuk dalam kategori cukup tinggi.
“Sementara pengaruh rokok itu terbukti, kan semua sepakat dari hasil katakanlah dari metaanalisis atau statistika review itu semua menunjukan bahwa pengaruh rokok adalah janin tumbuh lambat,” kata Hasto.
“Secara ilmiah antara rokok dan pertumbuhan janin ini sudah terbukti dan sangat signifi kan,” tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Ilustrasi-merokok-7.jpg)