Luar Negeri

Untuk Bisa Menikah, Perempuan Iran Harus Punya Sertifikat Perawan

Di Iran, perawan sebelum menikah adalah status yang penting bagi banyak perempuan dan keluarga mereka. Bahkan, kaum pria terkadang meminta sertifikat

Editor: Muliadi Gani
Untuk Bisa Menikah, Perempuan Iran Harus Punya Sertifikat Perawan
MEI.EDU
Lembaran pengesahan pernikahan mut'ah di Iran.

“Pacar saya menuduh saya mencoba menipu dia agar menikah.

Dia menuduh saya berbohong dan dia meninggalkan saya,” ungkap dia.

Meski WHO mengecam tes keperawanan sebagai sesuatu yang tidak etis dan kurang landasan ilmiah, praktiknya masih berlangsung di sejumlah negara, termasuk di Indonesia, Irak, dan Turki.

Organisasi Medis Iran menekankan bahwa mereka hanya menjalankan tes keperawanan dalam kondisi spesifik seperti kasus pengadilan dan tuduhan pemerkosaan.

Baca juga: Paramitha Rusady Masih Terihat Muda Saat Usianya 55 Tahun, Ingin Umurnya Lebih Berkah

Meski demikian, sebagian besar permintaan sertifikat keperawanan masih berasal dari para pasangan yang berencana menikah.

Para pasangan itu kemudian mendatangi klinik swasta bahkan dalam banyak kasus didampingi ibu mereka.

Dalam proses tersebut, seorang dokter ginekologi atau bidan akan melakukan tes dan merilis sertifikat berisi nama lengkap perempuan, nama ayahnya, nomor induk kependudukan, dan kadang kala disertai foto sang perempuan.

Status selaput daranya akan tertera pada sertifi kat tersebut disertai pernyataan:

Gadis ini tampaknya adalah perawan. Pada keluarga-keluarga yang lebih konservatif, sertifikat akan ditandatangani dua saksi biasanya kedua ibu masing-masing calon mempelai.

Dokter Fariba adalah salah satu dokter yang merilis sertifikat keperawanan selama bertahun-tahun.

Dia mengakui tes keperawanan adalah praktik yang memalukan bagi perempuan, tetapi dia meyakini bahwa sejatinya dia membantu banyak perempuan.

“Mereka berada dalam tekanan berat dari keluarga. Kadang kala saya berbohong secara verbal demi pasangan.

Jika mereka telah tidur bersama dan ingin menikah, saya akan mengatakan di depan keluarga mereka bahwa perempuan ini adalah perawan,” jelas dr Fariba.

Praktik tes keperawanan tetap berlangsung karena, bagi banyak pria, menikahi seorang perawan adalah sesuatu yang fundamental.

“Jika seorang perempuan kehilangan keperawanannya sebelum menikah, dia tidak bisa dipercaya.

Dia mungkin meninggalkan suaminya demi pria lain,” kata Ali, seorang teknisi listrik berusia 34 tahun dari Shiraz.

Namun, dia mengaku telah berhubungan seks dengan sepuluh perempuan.

“Saya tidak tahan,” ucapnya. Ali menerima ada standar ganda di masyarakat Iran, tetapi dia bersikukuh bahwa tiada alasan tradisi diakhiri.

“Norma-norma sosial menerima bahwa pria punya lebih banyak kebebasan dibandingkan perempuan,” ucap dia.

Pandangan Ali serupa dengan banyak orang, khususnya di wilayahwilayah pedesaan yang konservatif di Iran.

Meski rangkaian demonstrasi semakin banyak menentang tes keperawanan, tapi karena pandangan tes keperawanan sangat mengakar dalam budaya Iran, banyak pihak percaya diakhirinya tes keperawanan oleh pemerintah dan parlemen bakal sulit segera berlangsung.

(BBC News Indonesia/Kompas.com)

Baca juga: Minta Nafkah Sule Rp25 Juta, Nathalie Holscher Sebut Harga Sabun, Baju dan Susu Alergi Adzam Jutaan.

Baca juga: Empat Warga Diamankan di Polair Setelah Dipergoki Tangkap Ikan Menggunakan Setrum

Baca juga: Resep Tahu Bakso Goreng Petis, Camilan Enak dan Praktis

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved