Sabtu, 13 Juni 2026

Luar Negeri

WALAH, Gegara Garuk Kepala saat Mengemudi Seorang Pria Didenda Rp 6,4 Juta

Sistem mengira, si pria tersebut sedang berbicara sambil memegang ponsel dan mengemudi di jalan raya yang merupakan salah satu jenis pelanggaran lalu

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Fadil Mufty
Dok Oddity Central
Nasib malang dihadapi seorang pria ini, dia didenda hingga 380 euro (Rp 6,4 juta) akibat kesalahan tilang elektronik hanya karena gegara garuk kepala, dikira sedang nelpon pegang handphone. 

PROHABA.CO -- Nasib malang dihadapi seorang pria ini, dia didenda hingga 380 euro (Rp 6,4 juta) akibat kesalahan tilang elektronik hanya karena gegara garuk kepala saat mengemudi.

Sistem mengira, si pria tersebut sedang berbicara sambil memegang ponsel dan mengemudi di jalan raya yang merupakan salah satu jenis pelanggaran lalu lintas, ternyata terjadi "false positive" atau kesalahan algoritma pada kemera pengintai.

Dilansir dari Oddity Central, Kamis (22/2/2024) pada November lalu seorang pria asal Belanda, Tim Hansen menerima denda karena diduga berbicara di ponselnya saat mengemudi sebulan sebelumnya.

Dia terkejut, terutama karena dia tidak ingat menggunakan ponselnya saat mengemudi pada hari itu, jadi dia memutuskan untuk memeriksa foto yang memberatkannya di pengadilan.

Pada pandangan pertama, tampaknya Hansen memang sedang berbicara di teleponnya, tetapi jika dilihat lebih dekat terlihat bahwa dia sebenarnya tidak memegang apa pun di tangannya.

Dia hanya menggaruk bagian samping kepalanya dan kamera salah mengira posisi tangannya sedang memegang telepon.

Yang lebih membingungkan lagi adalah orang yang memeriksa foto tersebut dan memvalidasi dendanya juga tidak menemukan “positif palsu” atau kesalahan algoritma.

Hansen yang kebetulan bekerja di bidang IT, membuat algoritma yang mengedit dan menganalisis gambar, menggunakan pengalaman pribadinya untuk menjelaskan cara kerja sistem kamera polisi, Monocam atau CCTV, dan mengapa bisa membuat kesalahan.

Meskipun dia tidak bisa menguji CCTV sendiri, dia menjelaskan bagaimana sistem ini dirancang untuk bekerja dan mengapa sistem ini dapat menghasilkan positif palsu.

"Jika suatu model harus memprediksi apakah sesuatu itu 'ya' atau 'tidak', tentu saja bisa saja model tersebut salah," tulis Hansen.

"Dalam kasus tiket saya, modelnya menunjukkan bahwa saya sedang memegang telepon, padahal tidak demikian," sambungnya.

"Kemudian kita berbicara tentang positif palsu. Model yang sempurna hanya memprediksi hal positif dan negatif yang sebenarnya, tetapi prediksi yang 100 persen benar jarang terjadi," tambah ahli IT itu.

Dia menjelaskan, sistem seperti CCTV harus dilatih pada sekumpulan besar gambar yang dibagi menjadi dua atau tiga kelompok: set pelatihan, set validasi, dan set pengujian.

Set pertama digunakan untuk mengajarkan algoritma objek mana yang ada pada gambar apa dan properti mana (warna, garis, dll.) yang dimilikinya.

Set kedua, untuk mengoptimalkan sejumlah hyper-parameter algoritme, dan set ketiga untuk menguji seberapa baik sistem sebenarnya bekerja.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
Live
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved