Senin, 11 Mei 2026

Tahukah Anda

Sayangi Jantung Anda, Cahaya Kota Besar Dapat Merusak Kesehatan

Sistem ini mengatur berbagai proses internal, mulai dari siklus tidur-bangun, masih terang benderang oleh lampu jalan, layar ponsel, atau televisi,

Tayang:
Editor: IKL
SHUTTERSTOCK/ADNREAS H
BERLIMPAH CAHAYA - Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, bundaran yang berlimpah cahaya pada malam hari 

Cahaya Kota Besar Dapat Merusak Kesehatan Jantung

PROHABA.CO-Di tengah gemerlap lampu kota dan layar gawai yang tak pernah padam, mungkin kini saatnya Anda mempertimbangkan untuk memasang tirai anticahaya, mematikan televisi sebelum tidur, dan meredupkan lampu kamar. 

Pasalnya, riset terbaru menunjukkan bahwa paparan cahaya di malam hari bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit jantung.
 
Lalu, mengapa cahaya di malam hari bisa berbahaya? Tubuh manusia memiliki sistem jam biologis yang disebut ritme sirkadian. 

Sistem ini mengatur berbagai proses internal, mulai dari siklus tidur-bangun, masih terang benderang oleh lampu jalan, layar ponsel, atau televisi, ritme sirkadian bisa terganggu. 

Hal ini, menurut para peneliti, berkaitan erat dengan meningkatnya risiko masalah kardiovaskular.

 “Cahaya di malam hari menyebabkan gangguan ritme sirkadian, yang merupakan faktor risiko yang telah dikenal luas terhadap hasil kardiovaskular yang merugikan,” tulis tim peneliti internasional dalam studi pracetak mereka yang masih menunggu tinjauan sejawat.
 
Untuk menguji hipotesis tersebut, para peneliti menganalisis data dari 88.905 orang dewasa di Inggris yang mengenakan sensor pergelangan tangan untuk mengukur paparan cahaya selama satu minggu. 

Kesehatan mereka kemudian dipantau selama rata-rata 9,5 tahun. Hasilnya mengejutkan. Kelompok 10 persen dengan paparan cahaya malam tertinggi memiliki risiko yang jauh lebih tinggi terhadap penyakit arteri coroner, serangan jantung, gagal jantung, aritmia (fi brilasi atrium), dan stroke.

Penelitian ini telah memperhitungkan berbagai faktor lain yang memengaruhi kesehatan jantung seperti merokok, konsumsi alkohol, pola makan, durasi tidur, aktivitas fisik, status sosial ekonomi, dan risiko genetik. 

Meski belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, hasil ini cukup kuat untuk menyarankan bahwa paparan cahaya malam adalah faktor risiko yang serius dan bisa dihindari.
 
Wanita lebih rentan Menariknya, efek buruk cahaya malam lebih menonjol pada perempuan dan individu yang lebih muda. 

“Hubungan antara cahaya malam dan risiko gagal jantung serta penyakit arteri koroner lebih kuat pada perempuan, sedangkan risiko gagal jantung dan fibrilasi atrium lebih kuat pada individu yang lebih muda,” tulis para peneliti.

Baca juga: Sudah Mulai Dipesan Sejak dalam Kandungan, Bayi-Bayi Dijual ke Singapura

Fakta ini semakin menegaskan pentingnya memperhatikan kualitas lingkungan tidur, terutama pada kelompok yang lebih rentan secara biologis. 

Salah satu mekanisme yang diusulkan adalah hiperkoagulabilitas, yaitu kecenderungan darah untuk membeku lebih mudah. Kondisi ini telah dikaitkan dengan gangguan ritme sirkadian dalam penelitian sebelumnya. 

Namun, kemungkinan besar ada banyak mekanisme biologis lain yang turut berperan. Ritme sirkadian yang terganggu juga dapat mengacaukan fungsi-fungsi tubuh seperti metabolisme glukosa dan regulasi tekanan darah, dua faktor penting dalam kesehatan jantung.

 Dengan semakin banyaknya perangkat digital di kamar tidur—mulai dari smartphone hingga smart tv, paparan cahaya malam menjadi masalah yang sulit dihindari. 

Sebuah survei bahkan menyebut bahwa lebih dari separuh penduduk AS tertidur dengan televisi menyala. “Menghindari cahaya di malam hari mungkin merupakan strategi yang berguna untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular,” saran para peneliti.

Baca juga: Irmawan Minta HGU Perkebunan Sawit di Aceh Diukur Ulang, Ini Alasannya

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved