Konflik Amerika vs Iran
Militer AS Bersiap Hadapi Iran dengan Opsi Serangan Udara dan Laut, Tinggal Tunggu Perintah
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan skenario operasi militer terhadap Iran.
Ringkasan Berita:
- AS siapkan skenario militer kompleks terhadap Iran dengan target tidak hanya fasilitas nuklir, tetapi juga infrastruktur negara dan keamanan, berisiko memicu perang lebih luas.
- Diplomasi tetap berjalan namun rapuh, dengan negosiasi di Jenewa, sementara Trump terus memperkuat kehadiran militer di Timur Tengah.
- Tekanan eksternal meningkat, oposisi Iran dan Israel mendorong langkah keras, sementara Iran hanya bersedia membahas program nuklir, menolak kompromi soal rudal.
PROHABA.CO, WASHINGTON DC - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan skenario operasi militer terhadap Iran.
Rencana ini muncul sebagai langkah antisipasi apabila Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan.
Menurut laporan Reuters pada Minggu (15/2/2026), dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa perencanaan tersebut memiliki risiko sangat tinggi, terutama di tengah diplomasi Washington–Teheran yang masih berlangsung.
Perencanaan kali ini disebut jauh lebih kompleks dibandingkan operasi “Midnight Hammer” pada Juni 2025, ketika bomber siluman AS melancarkan serangan terbatas terhadap fasilitas nuklir Iran.
Serangan itu kemudian dibalas oleh Teheran dengan menargetkan pangkalan AS di Qatar.
Dalam skenario terbaru, sasaran militer tidak hanya terbatas pada infrastruktur nuklir, tetapi juga mencakup fasilitas negara dan keamanan Iran.
Hal ini dinilai berisiko besar karena Iran memiliki gudang rudal yang tangguh, sehingga berpotensi memicu serangan balasan yang dapat menyeret kawasan ke perang lebih luas.
Seorang pejabat AS menegaskan, “AS sepenuhnya memperkirakan Iran akan membalas, yang akan menyebabkan serangan balasan dari waktu ke waktu.”
Garda Revolusi Iran sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayah mereka akan dibalas dengan serangan ke pangkalan militer AS di kawasan.
Saat ini, pangkalan militer AS tersebar di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Turkiye.
Baca juga: Presiden Iran Klaim AS dan Israel Memang Tak Mau Kesepakatan Tercapai
Diplomasi
Di tengah ketegangan tersebut, jalur diplomasi masih terbuka meski dalam kondisi rapuh.
Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan menggelar negosiasi dengan Iran di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026), dengan bantuan mediator dari Oman.
Namun, harapan tercapainya hasil positif dibayangi peringatan dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
| Iran Tegas: Selat Hormuz Tak Dibuka Selama AS Masih Blokade Laut |
|
|---|
| DonaldTrump Mendadak Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran |
|
|---|
| Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, IRGC Tuding AS Blokade Laut |
|
|---|
| Harga Minyak Dunia Turun Usai Iran Buka Akses Selat Hormuz, Trump Ucap Terima Kasih |
|
|---|
| Negosiasi AS–Iran di Pakistan Gagal, Donald Trump Hadapi Pilihan Sulit |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/USS-Gerald-R-Ford-kapal-induk-super-milik-Amerika-Serikat.jpg)