Mutiara Ramadhan
Ramadhan Bulan untuk Reparasi dan Pembersihan Hati
Puasa hadir ke tengah-tengah kita untuk memberikan sentuhan yang baru terhadap kepribadian kita, terhadap akhlak kita, terhadap tingkah laku kita.
Dan yang ketiga adalah akhlakul azimah.
Akhlakul azimah adalah apabila orang lain melakukan suatu kejahatan kepada kita, menzalimi kita, memfitnah kita, berbuat suatu kejahatan dan kezaliman terhadap kita, namun kita tidak pernah membalasnya dengan kejahatan yang sama, tidak kembali memfi tnah orang itu, tidak kembali melakukan suatu kemungkaran kepada orang itu, namun kita tetap membalasnya dengan kebaikan.
Soimin dan soimat, Tribuners yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Puasa hadir sebagai bulan muhasabah, memberikan kita suatu pelatihan, memberikan kita suatu pelajaran bahwa kita di bulan ini harus belajar untuk memperbaiki hati kita, supaya kita tidak benci dengan orang lain, kita tidak perlu membalas orang lain yang berbuat kejahatan kepada kita.
Puasa adalah obat untuk mengobati seluruh dan segala penyakit hati yang ada pada kita.
Inilah alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kita untuk berpuasa.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Soimin dan soimat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bulan puasa ini ibarat sebuah aliran sungai yang mengalir dengan aliran ketaatan.
Bulan yang harinya selalu dipenuhi dengan kebaikan dan kebahagiaan. Bulan yang malamnya selalu bersinar dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Ada sebuah pertanyaan besar untuk kita pada sore hari ini: mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kita manusia, khususnya kaum muslimin dan muslimat, khusus lagi orang-orang yang beriman, untuk berpuasa?
Jawabannya adalah untuk kita memperbaiki atau mereparasi hati kita.
Baca juga: Sabar: Ibadah Sunyi yang Pahalanya Besar
Ada sebuah riwayat yang disampaikan oleh Hasan Al Kautbawi di dalam bukunya Duratun Naasihin, bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan akal dan nafsu, yang pertama kali dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah akal.
Ketika akal berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah berkata kepada akal: “Wahai akal, man ana wa man anta? Siapakah Aku dan siapakah engkau?” Akal menjawab dengan jelas.
Mendengar jawaban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala langsung memuliakan akal.
Kemudian yang kedua, giliran Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil nafsu dengan pertanyaan yang sama. Allah berkata kepada nafsu: “Siapakah Aku dan siapakah engkau?”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Ustaz-Sofyan-Lestaluhu-SE-MM-MH.jpg)