Mutiara Ramadhan
Ramadhan Bulan untuk Reparasi dan Pembersihan Hati
Puasa hadir ke tengah-tengah kita untuk memberikan sentuhan yang baru terhadap kepribadian kita, terhadap akhlak kita, terhadap tingkah laku kita.
Dengan sombong nafsu menjawab: “Engkau adalah Engkau dan aku adalah aku.”
Mendengar jawaban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan nafsu ke dalam neraka Jahim selama 100 tahun lamanya.
Tribuners yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah 100 tahun berlalu, Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memanggil nafsu kembali, masih dengan pertanyaan yang sama: “Wahai nafsu, siapakah Aku dan siapakah engkau?”
Masih dengan gagah dan sombongnya, nafsu berkata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Ana wa ana, anta wa anta.
Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.” Mendengar jawaban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat marah dan murka kepada nafsu, dan pada akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan nafsu ke dalam neraka Ju.
Apa itu neraka Ju?
Soimin dan soimat, Tribuners yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Neraka Ju adalah neraka yang isinya orang-orang kelaparan, neraka yang isinya orang-orang yang kehausan.
Tidak ada makan dan minum di sana. Dan pada akhirnya, dengan berpuasa, tidak ada makan dan minum, nafsu tidak punya tenaga, tidak punya kuasa.
Nafsu lemah, dan akhirnya sadar, lalu kembali ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berkata: “Wahai Tuhanku, anta Rabbi dan aku adalah hamba-Mu.”
Dengan demikian, puasa merupakan bulan reparasi. Puasa memperbaiki hati kita dengan mengalahkan setiap tindakan-tindakan yang tidak baik yang dipengaruhi oleh nafsu kita.
Kesimpulannya adalah, di dalam hidup ini jangan sekali-kali menjadikan nafsu menjadi pemimpin atas diri kita.
Tetapi di dalam kehidupan ini kita harus menjadikan hati sebagai pemimpin atas diri kita.
Maka berbahagialah mereka yang selama hidupnya selalu menjadikan hati dan akalnya menjadi pemimpin atas dirinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Ustaz-Sofyan-Lestaluhu-SE-MM-MH.jpg)