Senin, 27 April 2026

Mutiara Ramadhan

Lailatul Qadar: Malam Penuh Cahaya dan Ampunan

Satu hal yang istimewa di bulan Ramadhan ada satu malam yang dalam Al-Qur’an Surah Al-Qadar disebutkan sebagai lebih baik dari 1.000 bulan

Editor: Muliadi Gani
PROHABA.CO/HO
Dr. K.H. Tafsir, M.Ag., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah 

Semakin hari semakin baik, bukan mencari hari-hari prioritas yang justru melemahkan hari yang lain.

Hal seperti ini tentu tidak sesuai dengan amalan Islam. 

Islam mengajarkan bahwa sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan akan diberi pahala oleh Allah.

Namun, yang terbaik adalah semakin hari semakin meningkat, bukan hari ini semangat karena merasa 

Lailatulqadar turun, lalu besok tidak bersemangat karena menganggap tidak turun.

Yang seperti ini bertentangan dengan nilai Islam. Islam mengajarkan kita untuk semakin hari semakin baik, bukan semakin hari semakin menurun atau hanya berbuat baik pada hari tertentu saja.

Maka, mari kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, kita tidak terpancang dalam beribadah selama Ramadhan hanya untuk target malam Lailatulqadar saja.

Akan tetapi, bagaimana mengisi Ramadhan dari hari pertama sampai akhir dengan semangat ibadah yang semakin meningkat, bukan flat, tetapi terus meningkat dari hari ke hari.

Itulah mengapa pada puncaknya, sebagaimana Nabi Muhammad teladankan kepada kita, sepuluh hari terakhir menjadi puncak spiritualitas kita dalam menjalani perjalanan spiritual.

Ibarat kita sedang bertapa, sebenarnya puasa itu adalah proses pertapaan.

Pada 20 hari pertama, pertapaan kita masih inklusif.

Kita masih bekerja, masih berbaur, dan masih beraktivitas sebagaimana biasa.

Namun, memasuki sepuluh hari terakhir, kita bertapa secara eksklusif, yaitu iktikaf, berdiam diri di masjid, menjauhi keramaian dan pikiran duniawi, serta fokus untuk muhasabah dan membangun kekuatan spiritualitas.

Namun, ini menjadi paradoks karena sering kali semakin mendekati Idulfi tri, kita justru semakin material.

Bukannya semakin khusyuk di masjid, melainkan sibuk di mal, sibuk di terminal, sibuk di pasar, dan sibuk di supermarket karena kultur kita yang akan berpesta pada saat Idulfitri.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved