Senin, 11 Mei 2026

Tahukah Anda

Hidup Sederhana Lebih Membahagiakan Dibandingkan Budaya Konsumtif

Di tengah gemerlap gaya hidup kemewahan para miliarder yang terus digaungkan media, sebuah riset terbaru justru mengungkap kenyataan sebaliknya

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
SUMBER : WWW.GOOGLE.COM
HIDUP BAHAGIA - Ilustrasi orang bahagia dengan hidup sederhana. 

PROHABA.CO -  Di tengah gemerlap gaya hidup kemewahan para miliarder yang terus digaungkan media, sebuah riset terbaru justru mengungkap kenyataan sebaliknya: kebahagiaan sejati tidak datang dari kekayaan, tetapi dari kesederhanaan yang dijalani secara sadar.

Studi ‘peer-reviewed’ yang dipimpin Profesor Rob Aitken dari University of Otago menemukan bahwa individu yang secara sukarela menjalani gaya hidup sederhana melaporkan tingkat kebahagiaan hedonik (kenikmatan hidup) dan kesejahteraan eudaimonik (makna hidup) yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengejar materialisme.

Penelitian ini bertolak belakang dengan naskah pemasaran umum yang menyamakan kebahagiaan dengan penghasilan dan konsumsi.

Lewat kuesioner standar yang diisi partisipan, ditemukan bahwa hidup sederhana—seperti membeli lebih sedikit, memperbaiki barang, dan mengandalkan produk lokal—berkorelasi kuat dengan rasa puas dan hidup bermakna.

‘Eudaimonic wellbeing’ berkaitan dengan tujuan, pertumbuhan, dan hidup sesuai dengan nilai-nilai pribadi.

Sederhana yang dimaksud di sini bukan miskin, tapi praktis: membeli lebih sedikit, memperbaiki barang, berbagi alat, dan memilih produk lokal ketika memungkinkan.

Profesor Aitken menekankan, “Bukan sekadar komitmen pada kesederhanaan material yang membuat orang bahagia, tetapi pemenuhan kebutuhan psikologis dan emosional melalui hubungan, koneksi sosial, keterlibatan komunitas, serta rasa hidup yang bermakna.” 

Baca juga: Ada Kebiasaan Sederhana yang Bisa Kuatkan Kemampuan Otak di Segala Usia

Hubungan sosial

Menariknya, kebahagiaan tidak muncul hanya karena seseorang menjual isi lemari pakaian.

Kebahagiaan hadir karena perubahan itu membebaskan waktu, perhatian, dan uang untuk hal-hal yang lebih bermakna: hubungan, keterampilan baru, dan kontribusi nyata pada komunitas.

Riset menunjukkan bahwa hidup sederhana sering membawa seseorang pada rutinitas yang meningkatkan interaksi, saling membantu, serta keterlibatan dalam masyarakat.

Inilah yang menguatkan sisi ‘eudaimonic wellbeing’, rasa hidup penuh arti. 

Mengikis kebahagiaan

Penelitian lain mendukung temuan ini. Metaanalisis besar dengan 259 sampel menemukan bahwa nilai-nilai materialistis berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan pribadi, termasuk kepuasan hidup dan vitalitas.

Namun, ketika orang mengurangi fokus pada harta dan mengalihkan perhatian pada hubungan serta kompetensi, tingkat kebahagiaan mereka meningkat.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved