Selasa, 12 Mei 2026

Tahukah Anda

Hidup Sederhana Lebih Membahagiakan Dibandingkan Budaya Konsumtif

Di tengah gemerlap gaya hidup kemewahan para miliarder yang terus digaungkan media, sebuah riset terbaru justru mengungkap kenyataan sebaliknya

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
SUMBER : WWW.GOOGLE.COM
HIDUP BAHAGIA - Ilustrasi orang bahagia dengan hidup sederhana. 

Artinya, uang memang bisa mengurangi stres jika kebutuhan dasar belum tercukupi, tetapi mengejar status dan kemewahan tanpa henti tidak memberikan kebahagiaan sejati. 

Baca juga: Cara Mencegah Batu Ginjal dengan Langkah Sederhana, Begini Penjelasan Menurut Dokter Urologi

Apa itu kebahagiaan?

Penelitian ini tidak memberi resep tunggal. Setiap orang bisa menemukan jalannya sendiri.

Beberapa contoh nyata yang ditemukan, misalnya berkebun untuk mmenuhi kebutuhan sendiri atau komunitas, berbagi sumber daya seperti air, berusaha mengandalkan barang lokal entah pakaian atau makanan, dan lainnya.

Aktivitas sederhana ini mengurangi konsumsi sekaligus meningkatkan interaksi sosial dan rasa kontribusi.

Kuncinya adalah kesesuaian dengan nilai hidup pribadi. Orang merasa lebih puas ketika rutinitas sederhana mereka selaras dengan nilai dan memberi ruang untuk mempraktikkannya.

Selain meningkatkan kesejahteraan, hidup sederhana juga berdampak pada bumi.

Antara tahun 2000–2019, konsumsi material domestik global naik 66 persen menjadi 95,1 miliar ton. 

Proses ekstraksi, distribusi, dan pembuangan material mendorong polusi, emisi, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.

Gaya hidup dengan konsumsi lebih sedikit membantu mengurangi tekanan pada ekosistem.

Meski begitu, tanggung jawab juga ada pada kebijakan dan bisnis.

Desain produk, akses perbaikan, hingga model layanan sangat memengaruhi pilihan konsumen. 

Kurangi konsumsi

Meski demikian, para penelitian ini masih perlu diperluas dengan data lintas negara dan waktu, arah temuan sudah jelas: kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari konsumsi berlebihan, melainkan dari koneksi sosial, kompetensi, dan hidup yang bermakna. 

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa tidak ada resep tunggal untuk bahagia. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved