Mutiara Ramadhan
Panggilan Keimanan di Bulan Ramadhan
Keimanan berada di dalam jiwa. Maka, yang terpanggil untuk melaksanakan ibadah puasa adalah jiwa dan keimanan.
Hati adalah sumber niat. Dalam puasa, niat menjadi dasar. Ulama berbeda pendapat tentang niat puasa.
Ada yang membolehkan satu kali niat untuk sebulan penuh, ada pula yang mewajibkan niat setiap malam.
Menggabungkan keduanya adalah sikap yang baik: berniat di awal Ramadhan untuk sebulan penuh dan tetap memperbarui niat setiap malam.
Hati juga menjadi sumber aktivitas, baik maupun buruk. Jika seseorang berkata kasar, masalahnya bukan pada lisannya, tetapi pada hatinya.
Jika seseorang mencela atau menyakiti orang lain, sumbernya adalah hati.
Karena itu, Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga.
Jika hanya itu, di luar Ramadhan pun kita bisa melakukannya.
Ramadhan harus menjadi momentum spiritual, bukan sekadar rutinitas.
Manusia terdiri atas jasad dan jiwa.
Jasad diberi makan dan minum.
Jiwa pun memiliki tingkatan: ada nafsul mutmainnah yang cenderung pada kebaikan, nafsul amarah yang cenderung pada keburukan, nafsul lawwamah yang menyesal setelah berbuat dosa, dan jiwa yang bimbang.
Pikiran, pendengaran, dan penglihatan juga bisa menjadi sumber dosa jika tidak dijaga.
Banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain haus dan dahaga karena tidak menjaga mata, telinga, dan pikirannya.
Baca juga: Ramadhan, Menyempurnakan Hubungan Sesama Manusia
Karena itu, keimanan dan pikiran harus selaras agar ibadah Ramadhan maksimal.
Pertama, luruskan niat hanya karena Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Sabaruddin-09.jpg)