Kamis, 4 Juni 2026

Konflik Palestina vs Israel

Hizbullah Serang Israel 1.013 Kali: 80.000 Pemukim Yahudi Terusir dari Utara

Lima serangan Hizbullah itu disebutkan menargetkan pos militer IDF di sektor timur di perbatasan Lebanon-Israel.

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Mahmud Hams / AFP
Asap akibat pemboman mengepul saat warga Palestina yang terlantar melarikan diri dari Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 30 Januari 2024, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas. 

Moran Aluf, seorang peneliti Israel, mengatakan kepada saluran KAN Israel bahwa "Israel" memiliki tawanan di Selatan dan "sandera di Utara", di mana para pemukim tidak dapat kembali ke rumah mereka atau hidup normal sebagai akibat dari pembalasan Hizbullah.

“Kami [Israel] tidak bisa membiarkan organisasi seperti Hizbullah menyandera pemukim,” katanya.

Asap mengepul selama pemboman Israel di atas Rafah di Jalur Gaza selatan pada 12 Februari 2024 di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militan Hamas Palestina. Serangkaian serangan udara Israel di kota Rafah, Gaza selatan pada 12 Februari 2024 menewaskan 52 orang, menurut kementerian kesehatan wilayah yang dikuasai Hamas. Serangan tersebut menghantam 14 rumah dan tiga masjid di berbagai wilayah di Rafah, menurut pemerintah Hamas.
Asap mengepul selama pemboman Israel di atas Rafah di Jalur Gaza selatan pada 12 Februari 2024 di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militan Hamas Palestina. Serangkaian serangan udara Israel di kota Rafah, Gaza selatan pada 12 Februari 2024 menewaskan 52 orang, menurut kementerian kesehatan wilayah yang dikuasai Hamas. Serangan tersebut menghantam 14 rumah dan tiga masjid di berbagai wilayah di Rafah, menurut pemerintah Hamas. (AFP/SAID KHATIB)

Dia mencatat kalau “Hizbullah menciptakan formulasi, dengan menyatakan bahwa 'selama pertempuran di Gaza masih berlangsung, maka saya [Hizbullah]' akan terus melanjutkan serangan."

Dia juga mengklarifikasi, kalau pun ada kesepakatan yang tercapai (gencatan senjata), maka hal tersebut hanya bersifat sementara.

Hal ini merujuk pada sikap pemerintah Israel yang kabarnya siap perang tapi lebih mendahulukan jalur diplomasi ke Lebanon agar tidak terjadi front kedua selain di Gaza.

Aluf menambahkan, ada potensi perang skala penuh tentara Israel melawan milisi Lebanon tersebut.

“Karena kita tidak dapat mengantisipasi apa yang diinginkan atau apa niat mereka. Kita harus memahami kemampuan mereka untuk menghindari apa yang terjadi di Selatan."

Aluf juga menggambarkan ancaman Hizbullah terhadap permukiman di utara sebagai “tantangan keamanan” yang akan melemahkan perjanjian politik jika tidak ditangani.

Baca juga: Presiden Iran Tuntut Israel Dikeluarkan dari PBB

Baca juga: Israel Serang Kota Rafah Sebelum Fajar, 52 Orang Tewas

80.000 Pemukim Yahudi Terusir dari Wilayah Utara

Pernyataan Aluf muncul satu hari setelah walikota Metula mengungkapkan kalau 80.000 pemukim telah dipaksa keluar dari wilayah Utara sebagai akibat dari operasi militer Hizbullah dalam upaya mendukung Gaza dan mempertahankan wilayah Selatan Lebanon.

David Azoulay, walikota pemukiman Metula di wilayah utara yang diduduki, mengungkapkan pada Sabtu kalau sekitar 80.000 pemukim telah meninggalkan rumah mereka selama empat bulan, tanpa mengetahui kapan mereka dapat kembali.

Azoulay mengatakan kepada Channel 13 Israel bahwa “yang kami [para pemukim] minta hanyalah tinggal di rumah kami, namun kami bukan orang bebas di Israel”.

Dia menambahkan bahwa “Hizbullah selalu mendikte (situasi) intensitas di Utara.”

Azoulay juga mengklaim kalau selama empat bulan terakhir, Hizbullah telah menembak dan menyerang permukiman di utara, sementara pasukan pendudukan Israel melakukan pertempuran yang tidak memadai dan dengan cara yang tidak memungkinkan pemukim kembali ke rumah mereka.

Hal itu terjadi, saat pemerintah Israel cenderung menomorduakan situasi di Utara, kata dia.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved