Senin, 13 April 2026

Kasus Penganiayaan

Bocah SD di Timor Tengah Selatan Tewas Usai Diduga Dipukul Guru dengan Batu

Bocah kelas IV SD Inpres One itu meninggal dunia secara tragis setelah diduga mengalami penganiayaan oleh guru penjaskesnya sendiri, Yafet Nokas,

Editor: Muliadi Gani
POS-KUPANG.COM/KRISTOFORUS BOTA
PENGANIAYAAN - Keluarga korban penganiayaan hingga meninggal saat ditemui dikediaman mereka di Desa Poli, Timor Tengah Selatan, Rabu (15/10/2025). Bocah kelas IV SD Inpres One itu meninggal dunia secara tragis setelah diduga mengalami penganiayaan oleh guru penjaskesnya. 

PROHABA.CO, BETUN – Suasana duka menyelimuti rumah sederhana milik keluarga Rafi To (10) di Desa Poli, Kecamatan Santian, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Bocah kelas IV SD Inpres One itu meninggal dunia secara tragis setelah diduga mengalami penganiayaan oleh guru penjaskesnya sendiri, Yafet Nokas, pada Jumat (26/9/2025) siang, saat apel pulang sekolah.

Peristiwa memilukan ini baru diketahui keluarga pada Senin (29/9/2025), setelah Rafi mengeluh sakit kepala hebat dan demam tinggi.

Sebelumnya, Rafi memilih diam dan tidak bercerita kepada siapa pun tentang apa yang menimpanya.

Ia tinggal bersama bainya (kakek), Marten Toh, neneknya Termutis Tahun, serta mama besarnya, Sarlisa Toh.

Sementara ibunya merantau di Surabaya setelah berpisah dari sang ayah.

Saat ditemui media, Sarlisa menceritakan bagaimana keluarga baru mengetahui Rafi menjadi korban kekerasan di sekolah.

“Kami baru tahu hari Senin. Waktu itu Rafi minta saya urut kepalanya karena panas tinggi dan sakit sekali.

Begitu saya pijit, dia langsung menjerit kesakitan.

Di situ saya curiga dan tanya kenapa, baru dia cerita semuanya,” tutur Sarlisa dengan suara bergetar, Rabu (15/10/2025).

Baca juga: Guru Honorer di Pijay Diduga Aniaya Pelajar hingga Masuk RS

Rafi mengaku kepada mama besarnya bahwa ia dipukul menggunakan batu sebanyak empat kali di bagian depan dan belakang kepala.

Alasan sang guru, Rafi dan sembilan temannya tidak ikut latihan upacara bendera dan sekolah minggu.

“Saya tanya, kenapa pakai batu, bukan rotan? Rafi bilang waktu itu tidak ada kayu, jadi guru langsung ambil batu.

Saya cuma bisa terdiam dengar itu,” ujar Sarlisa menahan tangis.

Setelah menceritakan kejadian itu, kondisi Rafi memburuk.

Sumber: pos-kupang.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved