Luar Negeri

Iran Wajibkan Wanita Berjilbab di Mobil, Aksi Protes Masih Berkobar

Mahsa Amini meninggal setelah dirinyaditahan di Teheran oleh polisi moral Iran karena dugaan pelanggaran aturan berpakaian ketat bagi perempuan ...

Editor: Muliadi Gani
via AP PHOTO
Warga Iran memprotes kematian Mahsa Amini yang berusia 22 tahun setelah perempuan itu ditahan oleh polisi moralitas, di Teheran pada 1 Oktober 2022. Polisi Iran kembali mengeluarkan peringatan bahwa para perempuan harus mengenakan jilbab bahkan di dalam mobil, lapor media lokal Fars pada Senin (2/1/2023). 

PROHABA.CO, TEHERAN - Polisi Iran kembali mengeluarkan peringatan bahwa para perempuan wajib mengenakan jilbab bahkan di dalam mobil, lapor media lokal Fars pada Senin (2/1/2023).

Peringatan ini nyatanya muncul saat kerusuhan masih berkobar di Iran setelah kematian Mahsa Amini pada 16 September 2022.

Mahsa Amini meninggal setelah dirinyaditahan di Teheran oleh polisi moral Iran karena dugaan pelanggaran aturan berpakaian ketat bagi perempuan di negara itu.

Mahsa Amini dilaporkan tak mengenakan jilbab secara sempurna.

Kantor berita Fars melaporkan pada Senin, seorang perwira polisi senior Iran menyebut “tahap baru” dari program Nazer-1 berarti pengawasan dalam bahasa Persia telah diperkenalkan di seluruh negeri oleh polisi.

Fars menambahkan, program Nazer yang diluncurkan pada 2020 lalu itu turut mengatur larangan pelepasan jilbab di mobil.

Baca juga: Kampanye untuk Hak Perempuan, Pesepak Bola Iran Dihukum Mati

Baca juga: Penjara Terkenal Kejam di Iran Terbakar, Empat Tewas dan 61 Luka

Saat diluncurkan pada 2020, para pemilik mobil akan dikirimi pesan teks SMS berisi peringatan jika melakukan pelanggaran aturan berpakaian di kendaraan dan peringatan tindakan “hukum” jika diulangi.

Namun, polisi tampaknya telah menghentikan ancaman tindakan hukum kali ini, menurut pesan yang diposting di platform media sosial.

“Pelepasan jilbab telah diawasi di kendaraan Anda: Penting untuk menghormati norma masyarakat dan memastikan tindakan ini tidak terulang kembali,” demikian bunyi pesan SMS yang dilaporkan telah dikirim oleh polisi Iran dan diposting di media sosial.

Sebagaimana dikutip dari AFP, polisi moral Iran yang dikenal sebagai Gasht-e Ershad diketahui memiliki mandat untuk memasuki area publik guna memeriksa penerapan aturan berpakaian yang ketat.

Baca juga: Iran Eksekusi Demonstran, Digantung di Depan Umum

Baca juga: Tanding Tanpa Jilbab, Rumah Keluarga Atlet Panjat Tebing Iran Dihancurkan

Menyusul protes atas kematian Mahsa Amini, banyak perempuan di distrik kelas atas ibu kota Teheran, serta di pinggiran selatan yang lebih sederhana dan tradisional, mulai berangsur memutuskan untuk melepas jilbab dan tanpa diperingatkan.

Sejak September 2022, mobil van polisi moralitas putih dan hijau menjadi pemandangan yang jauh lebih jarang di jalan-jalan Teheran.

Pada awal Desember, Jaksa Agung Iran Mohammad Jafar Montazeri bahkan mengatakan polisi moral telah dibubarkan.

Namun, para juru kampanye meragukan komentarnya, yang tampaknya merupakan tanggapan dadakan atas pertanyaan di sebuah konferensi daripada pengumuman yang ditandai dengan jelas oleh kementerian dalam negeri yang mengawasi polisi.

Sebelumnya dilaporkan, 100 orang demonstran yang ditahan telah dijatuhi hukuman mati oleh otoritas Iran.

(Kompas.com)

Baca juga: Dua Hakim Agung Jual Belikan Perkara

Baca juga: Nekat Ngopi Tanpa Jilbab, Wanita Iran Ditangkap

Baca juga: Untuk Bisa Menikah, Perempuan Iran Harus Punya Sertifikat Perawan

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved