Kamis, 28 Mei 2026

Berita Internasional

Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini Sosoknya

Mojtaba Khamenei muncul sebagai calon terkuat untuk posisi Pemimpin Tertinggi Iran menyusul kematian mendadak Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
WIKIMEDIA COMMONS via WION | Handover/Saudi Gazette  
PEMIMPIN IRAN - Mojtaba Khamenei,(kiri) putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, dikabarkan telah terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Mojtaba Khamenei Terpilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini Sosoknya 

Selama lebih dari empat dekade ia memerintah dengan kekuasaan absolut dan sedikit fleksibilitas untuk berubah.

Istri Mojtaba Khamenei, Zahra Adel; ibunya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh; dan seorang anaknya tewas bersama ayahnya dalam serangan pada 28 Februari, menurut pemerintah Iran.

Baca juga: Stasiun CIA Amerika Serikat di Riyadh Diserang Drone, Diduga dari Iran

Profil Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di Mashhad, tumbuh di tengah dinamika politik dan pada masa ayahnya aktif menentang Shah sebelum Revolusi Islam Iran 1979.

Berbeda dengan banyak tokoh senior ulama Iran, Mojtaba tidak dianggap sebagai cendekiawan religius tingkat tinggi dan belum pernah memegang jabatan terpilih resmi dalam pemerintahan.

Meski demikian, ia memiliki pengaruh signifikan di balik layar, terutama melalui kedekatannya dengan IRGC.

Ia pernah terlibat dalam pengelolaan beberapa kantor ayahnya dan berpartisipasi aktif dalam urusan keamanan internal.

Selama Perang Iran-Irak, Mojtaba juga terlibat sebagai salah satu tokoh militer yang berperan strategis.

Amerika Serikat sempat mengenakan sanksi terhadap Mojtaba pada 2019, menuduh ia bertindak mewakili Pemimpin Tertinggi meski tanpa jabatan resmi. 

Penunjukan Penting

Pengangkatan Mojtaba Khamenei akan menjadi sejarah karena kepemimpinan di Iran selama ini menolak ide pemerintahan turun-temurun, dan suksesi dari ayah ke anak tidak dianggap menguntungkan dalam lingkaran ulama Syiah.

Ali Nasr, pakar Iran dari Universitas Johns Hopkins, kepada The New York Times menyatakan bahwa kenaikan Mojtaba menunjukkan bahwa “sisi Garda Revolusi yang lebih keras kini memegang kendali rezim.”

Pendukung pemerintahan kemungkinan melihat langkah ini sebagai kelanjutan  pemerintahan ayahnya di tengah krisis, sementara pengkritik menilai hal ini sebagai penguatan politik dinasti dalam sistem yang secara resmi menentang monarki.

Majelis Ahli kini menghadapi tantangan besar untuk menegaskan kepemimpinan baru, menjaga legitimasi, serta menavigasi ketegangan regional yang semakin meningkat.

Pemilihan ini juga menjadi momen kedua dalam sejarah Republik Islam selama 47 tahun untuk menunjuk Pemimpin Tertinggi, setelah pertama kali dilakukan pada 1989 ketika Ali Khamenei naik menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Ini akan menjadi kali kedua dalam sejarah Republik Islam bahwa majelis tersebut memilih pemimpin baru.

Baca juga: Kapal Selam AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Lepas Pantai Sri Lanka, 87 Orang Tewas

Baca juga: Mossad Gelar Operasi False Flag demi Seret Arab Saudi ke Dalam Konflik, Iran Bantah  Serang Aramco

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com 

 

 

 

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved